Apakabar Energi Fosil di tahun 2050 ? ( Part 2 of 2 )

advertise here
Sumber : dokumentasi pribadi

Indonesia adalah negara yang sangat luas dengan sumber daya alam yang sangat melimpah juga energi terbarukannya. Contohnya, energi gelombang air laut, energi angin, air terjun/air mengalir, panas bumi/geotherm, cahaya matahari, dan lainnya.
Sumber : google

Pertanyaannya bagaimana orang awam seperti saya dapat menggunakan energi – energi tersebut?
Saat saya belajar tentang konversi energi, sumber energi tersebut dapat dimanfaatkan dengan membuat alat konversinya seperti turbin, generator, boiler, dan lainnya. Namun, hal tersebut tidak dapat dengan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari. Namun, berbeda dengan energi matahari.

Energi matahari di Indonesia adalah energi yang tersedia secara gratis dimana matahari idealnya menyinari selama enam bulan di musim panas dari pagi hingga petang. Bahkan saat musim hujan pun, beberapa jam mungkin matahari akan menyinari. Pertanyaannya, bagaimana kita memanfaatkan energi matahari itu?

Tentunya dengan penggunaan PV atau Photovoltaic. Rangkaian photovoltaic sangat sederhana, dimana komponen yang dibutuhkan hanya PV, controller, baterai, inverter (jika penggunaan lampu DC maka tidak perlu) dan kabel – kabel penghubung.

Selain itu penggunaan PLTS ( Pembangkit Listrik Tenaga Surya ) bisa sangat menguntungkan karena kalian bisa menjual listrik ke pihak PLN jika beban listrik di rumah sudah tepenuhi.

Memang praktis, namun harganya cukup mahal jika untuk memasok seluruh beban listrik di rumah. Tapi, hal itu adalah investasi di masa depan jika terjadi kelangkaan energi fosil. Atau kalian bisa memasang PLTS untuk membantu setengah dari kebutuhan listrik di rumah. Kalau memang masih mahal setidaknya penerangan di kamar kalian pribadi sudah menggunakan energi matahari. Sudah banyak pedagang online yang memasarkan produk lampu berbasis energi cahaya matahari dengan harga murah kok.

Harapan saya, dengan krisis energi yang akan terjadi beberapa tahun yang akan datang, pemerintah mulai meluncurkan beberapa program yang terfokus pada pemanfaatan renewable energy. Mungkin dengan penyediaan cicilan syariah PLTS Home untuk beban 450W dan 900W. Kalau pun mahal, dengan dicicil dapat meringankan beban masyarakat dalam pembayarannya.

Sejatinya, mencicil PLTS Home sama saja seperti kita membeli motor untuk kemudian kita mempekerjakan orang untuk menjadi ojeg dengan motor kita. Kita akan tetap dapat penghasilan dari ojeg walaupun harus membayar cicilan. Sama seperti PLTS, jika beban listrik di rumah sudah tercukupi bahkan ada sisa, maka kita dapat menjual listrik ke PLN. Kita bisa mendapatkan penghasilan dari penjualan listrik walaupun tetap membayar cicilan.

Pada akhirnya, saat kita sudah mengetahui akan kelangkaan energi fosil atau mahalnya PLTS setidaknya kita bisa lebih bijak menggunakan energi – energi yang bersumber dari fosil atau penggunaan listrik di kehidupan sehari – hari.

Terakhir, pesan dari saya adalah, di kemudian hari energi fosil sangat bisa berpengaruh pada listrik sehari – hari dan saya yakin PLN memiliki strategi tertentu dalam menghadapinya. Namun, terlepas dari hal itu, seyogianya kita pun turut andil dalam penggunaan listrik. Jangan terlalu di-ninabobo-kan oleh PLN dan mari berpikir lebih bijak dalam memanfaatkan energi gratis yang sudah disediakan oleh Sang Maha Baik.

Click to comment