CerPen HanaMie Monogatari : Patient Love Part 1

advertise here
Source : @ksm1
Aku adalah Alpha. Seorang laki-laki biasa yang punya keinginan luar biasa dan menujunya dengan jalan yang tak biasa. Selama masih di jalan-Nya kurasa itu adalah hal yang lumrah.

Punya kekasih bernama Zetta yang lahir di bulan Januari bertepatan dengan hari kelahiranku juga, pada tanggal 29 Januari. Menunjukan bahwa kami adalah suatu kesatuan yang telah digariskan Tuhan lewat takdir. Kata orang, dia biasa saja. Tidak cantik apalagi menarik. Tapi aku sudah mengenalnya, sudah tahu persis keindahan Tuhan yang di titipkan padanya. Aku beruntung, karena cuma aku yang mampu melihatnya.

Hari ini, untuk yang ketiga kalinya kami merayakan ulang tahun bersama. Tandanya sudah tiga tahun pula hubungan percintaan ini dimulai. Selama itu kami baik-baik saja, bertengkar kecil dan kemudian rindu lagi. Tapi bagiku itu wajar dalam  setiap hubungan, katanya supaya tidak bosan.  Kata Zetta yang berusaha memperbaiki keretakan sesaat dalam hubungan kami.

“Selamat ulang tahun” ucap Zetta saat bertemuku sambil membawa cupcake berukuran sedang dengan sedikit hiasan dan satu lilin di tengahnya. Setiap ulang tahun aku dan Zetta tidak pernah memakai lilin berbentuk angka usia kita saat ini. Satu lilin kecil saja cukup. Sudah mewakili semuanya.

Aku membalas dengan senyum biasa. Tanpa mengucapkan apapun pada Zetta setelahnya. Zetta tidak tahu kalau aku sedang menyiapkan sesuatu untuknya.

***

Aku adalah Zetta. Gadis SMA yang punya kekasih bernama Alpha. Kita lahir pada hari yang sama, tetapi berbeda tempat, berbeda ibu pastinya.

Hari ini adalah hari ulang tahunku, dan lebih istimewanya lagi Alpha juga berulang tahun. Aku dan Alpha selalu bertukar kado dan doa setiap kali merayakan ulang tahun bersama. Aku heran di ulang tahun yang ke tujuh belas ini dia tak seperti Alpha di tahun-tahun sebelumnya. Sikapnya berbeda. Biasanya dia yang paling antusias, bahkan dari seminggu sebelumnya. Kali ini kuanggap sebuah senyuman adalah  kado yang berbeda darinya.

“Kali ini doanya cukup aku dan Tuhan yang tahu yah” kataku setelah mengucapkan selamat kepada Alpha yang hanya di balas dengan senyuman kemudian semua berjalan biasa saja. Seperti bukan hari sepesial diantara aku dengannya. Ada apa dengan pacarku? Aku rindu dia yang dulu.

***

Langit pagi ini cerah, secerah hati Zetta menyambut hari kelahirannya yang ke tujuh belas. Pagi ini seperti biasa Alpha akan menjemputnya untuk pergi ke sekolah bersama. Kebetulan hari ini Alpha juga menginjak usia tujuh belas tahun. Tak lupa sebuah cup cake yang sudah di belinya di toko kue tak jauh dari rumahnya ia bawa sampbil menunggu Alpha datang.

Kemudian tak lama Alpha datang dengan sepeda fixie berwana dasar putih dan ada warna hitam di lingkaran rodanya. Rumahnya tak terlalu jauh dengan Zetta, tetapi kalaupun jauh itu bukan sebuah permasalahan baginya, jika hanya untuk sekedar menjemput gadis yang membuatnya semangat pergi ke sekolah.

Zetta menyodorkan cupcake seraya mengatakan “Selamat ulang tahun”. Alpha membalas dengan senyum. Setelah itu cupcake berukuran sedang mereka makan dan selesailah acara ulang tahun sederhana yang di rencanakan Zetta untuk Alpha. Hati kecilnya berharap, bahwa Alpha akan memberinya kejutan yang tak disangka di ulang tahunnya kali ini, tampaknya sebuah senyuman sudah cukup mengwali paginya.

Zetta mulai mengeluarkan sepedanya yang sudah dua tahun dimilikinya sejak iya mulai memasuki sekolah menengah atas. Sepeda fixie berwaerna pink yang selaras dengan warna tas gendong dan bando yang ia gunakan hari ini. Alpha dan Zetta  pergi ke sekolah menggunakan sepedanya masing-masing namun tetap berjalan beriringan. Kalaupun tidak,  Alpha selalu membiarkan Zetta lebih dulu dari pada nya, sebab keselamatan Zetta lebih penting. Ia pikir dengan mengayuh di belakangnya, Alpha akan lebih mudah memantau lingkungan sekitar, barangkali ada yang beniat jahat pada Zettanya.

***

Alpha mengantarkan Zetta sampai kedepan pintu kelas, untuk memastikan wanitanya itu selamat dan bisa belajar pada hari-hari yang sedang dan akan dilewatinya.

“Aku langsung aja ya” ujar Alpha sambil berlalu menuju kelasnya.
“Oke”

Zetta dibuat bingung seribu bahasa, kenapa Alpha bersikap tak seperti biasanya. Ia lalu masuk ke dalam kelas.

“Ta sini coba, aku mau ngomong” teriak Rasti, salah satu sahabat baiknya.
“Itu barusan ngomong?”
“Beda lagi” lanjut Rasti yang kemudian berpindah tempat duduk di samping Zetta. “Eh tapi sebelumnya selamat ulang tahun dulu buat kamu sama Alpha, ciee.. samaan terus ulang tahunnya”
“Hahaha.. ya iyalah, masa beda lagi tiap tahun” Zetta tertawa padahal itu sama sekali tidak lucu.
“Sodaraku, dia suka kamu, liat foto-fotomu di instagram, katanya kamu manis” kata Rasti yang terus berbicara tanpa jeda.
“Tapi, sayang yah, kamu udah ada Alpha” lanjutnya. Padahal dia baik loh, pinter lagi, sekarang kuliahnya di ITB, anak kuliahan Ta.

Zetta hanya mengangguk-angggup memberi tanda mengerti dengan ucapan-ucapan Rasti, meskipun pada awalnya dia begitu kaget dengan pernyataan Rasti itu. Namun mengingat Alpha, rasanya kebaikan lelaki yang di ceritakan Rasti itu tidak ada apa-apanya dengan Alpha yang sudah lama dikenalnya.

“Menurut kamu giamanaTa?” tanya Rasti.
“Boleh juga”
Percayalah, bahwa Zetta hanya asal menjawab.

***

Sementara Alpha, sesampainya di kelas dia sibuk dengan berbagai persiapan yang sudah di siapkannya untuk ulang Tahun Zetta.

“Don, tolong nanti kamera standby yah!” Alpha meminta bantuan Doni sebagai juru kameranya.
“Masalah itu mah, udah beres serahin ke Doni,” kata Doni membanggakan diri.
“Dan buat temen-temen cewek, kalian nanti siap yah sesuai yang udah kita rencanain!
Oke, siap Al” kata salah satu teman wanita Alpha di kelas.
“Oke kalo gitu, aku pastiin kalian orang-orang baik semua” ujar Alpha memuji.

***

“Nanti sore ada acara gak Ta?” tanya Rasti saat setelah melaksanakan solat zuhur di sekolah.
“Gaada, emang kenapa?”
“Main yuk!” ujar Rasti
“Boleh, kemana?” Zetta mengiyakan ajakan Rasti
“Nanti aku yang tentuin tempatnya yah”
“Oke”

Karena Zetta berpikir bahwa Alpha  tampak sedang tak mau diganggu, akhirnya Ia putuskan untuk pergi dengan Rasti.
Sore tiba, cuacanya sedikit mendung, kemungkinan gerimis akan turun. Zetta  suka cuaca seperti ini, sayangnya bukan dengan Alpha Ia pergi.

Sore ini Rasti mengajaknya untuk sekedar mengobrol di cafe yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk tempat bercengkrama dengan orang-orang terkasih. Secangkir kopi hangat yang sudah dipesan turut serta menemani mereka.

“Kok pesennya tiga Ras?” Tanya Zetta.
“Ada lagi selain kita?
“Ada. Tunggu aja, hehe” jawab Rasti

Zetta keheranan, mungkin kah Alphanya akan datang? Lalu tak lama,

“Sini kak” Rasti beranjak dari duduknya seraya melambaikan tangan mengarah pada seseorang yang baru saja datang membuka pintu kafe yang terbuat dari kaca.

Kemudian orang tersebut melihatnya, dan langsung berjalan kearah Rasti dan Zetta duduk saat ini.

“Siapa Ras?” Zetta penasaran.
“Nanti dia kesini, tunggu. Tanya aja sama orangnya”

-BERSAMBUNG-

Click to comment